Waspada, Perilaku Konsumtif bisa Dipicu oleh Promo Belanja Online!

Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan berbelanja masyarakat telah berubah ke arah yang lebih canggih. Jika dulu masyarakat harus menyambangi mal atau pasar untuk belanja berbagai kebutuhan, sekarang perilaku tersebut sudah mulai ditinggalkan. Masyarakat sudah mulai memanfaatkan belanja online untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Sejumlah pihak mengatakan, belanja online punya banyak keuntungan dibanding harus belanja barang secara konvensional alias datang langsung ke toko si penjual. Belanja secara online dinilai lebih menghemat waktu, biaya, dan tenaga. Tak hanya itu, harga yang dibandrol di toko online pun seringkali lebih murah ketimbang harga yang dibandrol di toko konvensional.

Terkait fenomena itu, Bank Indonesia (BI) mengklaim bahwa kebiasaan masyarakat belanja barang secara online makin hari makin menunjukkan peningkatan. Menurut data yang dimiliki BI, sepanjang tahun 2019, nilai transaksi di 14 e-commerce terbesar di Tanah Air sudah mencapai angka Rp 265,07 triliun. Angka yang sangat besar, bukan?

READ  Ayo, Segera Lunasi Utang dengan Strategi Cerdas Bernama Debt Snowball!

Jumlah ini meningkat pesat dari nilai transaksi di tahun 2017 yang berada di angka Rp 80,82 triliun dan keseluruhan nilai transaksi di sepanjang tahun 2018 yang berada di angka 145,95 triliun.

Fakta di lapangan menyebutkan, meningkatnya jumlah transaksi ini tak disia-siakan oleh para pelaku bisnis online. Guna menarik minat belanja online masyarakat, perusahaan-perusahaan e-commerce seringkali memberikan promo, diskon, atau cashback yang nilainya besar pada momen-momen tertentu.

Kesempatan ini tentu tak akan disia-siakan pula oleh masyarakat Indonesia yang cenderung tertarik dengan hal-hal yang berbau potongan harga. Terlebih di momen akhir tahun, yang mana ada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang sering dijadikan ajang belanja oleh sebagian masyarakat.

Di satu sisi, kebiasaan belanja masyarakat yang meningkat pada dasarnya punya dampak positif terhadap perekonomian dalam negeri. Tapi, di sisi lain, promo yang diberikan juga bisa memicu perilaku konsumtif di masyarakat yang pada gilirannya berdampak buruk bagi kondisi finansial. Bahkan, ada yang sampai menumpuk utang.

READ  Jurus Jitu untuk Hindari Godaan Belanja Online saat Kerja dari Rumah

Sebagai konsumen, ada baiknya jika kamu selalu bijak dalam berbelanja barang apapun. Pikirkan baik-baik tiap kali mau melakukan pembelian. Tanya pada diri sendiri, apakah barang yang ingin dibeli sungguh-sungguh dibutuhkan atau tidak? Jangan sampai pembelian tersebut hanya perilaku konsumtif yang tidak berdasar!

Sementara itu, penting juga bagi kamu untuk membuat skala prioritas pada kebutuhan apa saja yang perlu dipenuhi terlebih dulu. Catat baik-baik, perilaku konsumtif yang tidak terkontrol berpotensi besar jadi ancaman serius bagi kondisi keuanganmu!

YLKI imbau masyarakat untuk bijak dalam berbelanja online

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengimbau masyarakat untuk tidak terjebak dalam perilaku konsumtif ketika berbelanja secara daring. YLKI menyarankan agar mengedepankan prinsip belanja kebutuhan daripada keinginan.

Masyarakat juga diminta waspada dengan toko online yang menjual berbagai produk. Pasalnya, menurut data YLKI selama 5 tahun terakhir, banyak aduan dari masyarakat yang mengatakan bahwa barang yang dibeli secara online tak pernah sampai ke tangan mereka selaku pembeli.

READ  Agar Sukses dan Berjalan Lancar, inilah Strategi Investasi yang Perlu Kamu Terapkan!

Adapun di sisi pelaku usaha, YLKI juga mendorong agar mereka selalu mengedepankan prinsip bertanggung jawab dalam materi promosi atau iklan yang dipublikasikan. Jangan sampai iklan tersebut malah menyesatkan atau malah menipu!

Di sisi lain, ada juga tips ampuh yang bisa dijadikan pedoman setiap kali ingin melakukan pembelian. Berikut tips yang dimaksud: Sebelum melakukan pembelian apapun yang sifatnya tidak mendesak, cobalah ambil jeda waktu selama 3 hari atau 72 jam. Itu diklaim merupakan waktu terbaik untuk menunggu. Kalo kamu tak berubah pikiran setelah waktu tersebut dan malah merasa yakin untuk membeli, itu berarti kamu tidak impulsif dan tidak masuk kategori perilaku konsumtif.